Langsung ke konten utama

Postingan

Feminisme

Feminisme Oleh: Yudi Setiadi [1]             Feminisme merupakan suatu paham yang –menurut tokoh-tokohnya- membela kaum wanita. Kaum feminis menganggap bahwa kedudukan wanita sebagai manusia selalu dinilai lebih inferior daripada laki-laki. Mereka selalu menuntut agar dunia membuat kesetaraan antara wanita dan pria dalam segala hal.             Feminisme adalah salah satu elemen pemikiran yang lahir dari konsep gender yang dikonstruksikan oleh pemikiran sekular. Sekular dalam arti memisahkan antara urusan agama dan urusan dunia. Sebagian besar –kalau kita tidak mau mengatakan semua- tokoh feminis menganggap bahwa faktor utama ketidaksetaraan yang terjadi bermuara pada konsep agama.             Feminisme muncul pertama kali di eropa. Terdapat tiga faktor yang menyebabkan munculnya faham feminisme. Pertama , berka...

Pendapat Syi’ah Tentang al-Qur’an dan Hadits

Pendapat Syi’ah Tentang al-Qur’an dan Hadits Oleh: Yudi Setiadi [1] Pengertian Syi’ah Syi’ah artinya pengikut. Dalam disiplin ilmu kalam, Syi’ah diartikan pengikut yang mengagungkan Ali bin Abi Thalib dan keluarganya (Ahlu bait). Awal munculnya Syi’ah disebabkan oleh arbitrase (Tahkim) antara Ali bin Abi Thalib dan Muawiyah bin Abi Sufyan. Setelah kejadian arbitrase (Tahkim) umat Islam ada yang mendirikan golongan tersendiri. Setidaknya ada dua golongan yang muncul yakni, Syi’ah dan Khawarij. Syi’ah merupakan pendukung setia Ali bin Abi Thalib sedangkan Khawarij merupakan kelompok yang tidak setuju arbitrase (Tahkim) dilakukan. Khawarij beranggapan bahwa arbitrase (Tahkim) tidak perlu dilakukan karena Ali bin Abi Thalib merupakan khalifah yang sah dan di sisi lain, Muawiyah bin Abi Sufyan merupakan pembangkang. Ketika kegiatan arbitrase (Tahkim), istilah syi’ah tidak terlalu condong maknanya kepada pengikut Ali bin Abi Thalib saja. Selain terdapat Syi’ah yang mendukung...

Tauhidullah Dalam Konsep Surat al-Ikhlash

Tauhidullah Dalam Konsep Surat al-Ikhlash Oleh: Yudi Setiadi [1] Konsep tentang Tuhan sangat mempengaruhi pola kehidupan setiap individu. Orang yang percaya akan adanya Tuhan Yang Esa akan menjalani kehidupan yang berbeda dengan orang yang tidak percaya dengan adanya Tuhan. Sebagai contoh, orang yang percaya terhadap Tuhan Yang Esa –Dan mengaplikasikan konsekuensi atas hal tersebut- akan menjalani kehidupan dengan jujur. Hal ini dikarenakan dia percaya bahwa Tuhannya pasti memperhatikannya. Berbeda dengan orang yang tidak mempercayai Tuhan. Orang yang tidak percaya adanya Tuhan akan cenderung cuek dan tidak amanah dalam melakukan sesuatu –Walaupun hal ini bukan suatu kemutlakan. Sejarah mencatat, manusia telah mengakui adanya Tuhan  sejak lama. Namun, keyakinan mereka terhadap Tuhan tidak memberikan dampak positif terhadap kehidupannya. Sebagai contoh, orang-orang arab jahiliyah. Mereka mengakui adanya Tuhan, yakni Allah. Namun pada waktu yang sama mereka menyekutukannya...

Wahyu sebagai Sumber Pengetahuan (Theory Epistemology of Iqra’)

Wahyu sebagai Sumber Pengetahuan ( Theory Epistemology of Iqra’ ) Oleh: Yudi Setiadi [1] Definisi Wahyu Kata Wahy yang dalam bahasa Indonesia disebut dengan ‘Wahyu’ merupakan bentuk Mashdar yang berasal dari akar kata waw, ha’ dan ya’ .  Kata Wahy dan derivasinya dalam al-Qur’an disebut sebanyak 78 kali.  Menurut al-Ashfahani dalam Mufradat Gharib al-Qur’an, makna awal kata Wahy adalah “isyarat yang cepat”.  Wahy memiliki dua ciri utama yakni “samar” dan “cepat”. [2]             Kata Wahyu sebagaimana dikatakan oleh Muhamad Abduh adalah “Pengetahuan yang ada pada diri seseorang dengan keyakinan bahwa pengetahuan tersebut bersumber dari Allah Swt., baik melalui perantara maupun tidak. [3]             Kedudukan wahyu dalam ajaran Agama Islam merupakan sesuatu hal yang penting. Sebab, kitab-kitab dan shuhuf yang diturunkan Allah kepada nabi-Nya tid...

Konsep Diin al-Islam

Konsep Diin al-Islam Oleh: Yudi Setiadi [1] Defenisi Diin Al-Diin sebagai kata diulang sebanyak 92 kali di dalam al-Qur’an. Kata al-Diin mengandung makna agama, kepercayaan, tauhid, hari pembalasan, tunduk, dan patuh. [2] Dalam Mu’jam al-Wasith al-Diin, yang memiliki jama’ al-Diyaanah, memiliki pengertian “kata untuk seluruh hal yang menyembah kepada Allah.” ( اسم لجميع ما يعبد به الله ) . Lebih lanjut, al-Diin al-Islaam yakni “Meyakini dengan hati, mengikrarkan dengan lisan dan diamalkan dengan rukun-rukunnya.” ( الاعتقاد بالجنان والاقرار باللسان وعمل الجوارح بالاركان ) . [3] Endang Saifuddin Anshari menegaskan bahwa disebut agama jika setidaknya memiliki tiga hal yakni, 1) taat keyakinan; 2) tata peribadatan; 3) tata kaidah. [4] M.  Quraish Shihab juga mengatakan dalam bukunya, ada tiga unsur pokok yang dapat dikatakan terdapat pada setiap agama: 1) kepercayan tentang adanya Yang Maha Kuasa; 2) kewajiban melakukan hubungan dengan Yang Maha Kuasa dalam bentuk-bentu...