Pendapat Syi’ah Tentang al-Qur’an dan Hadits
Oleh: Yudi Setiadi[1]
Pengertian
Syi’ah
Syi’ah artinya
pengikut. Dalam disiplin ilmu kalam, Syi’ah diartikan pengikut yang
mengagungkan Ali bin Abi Thalib dan keluarganya (Ahlu bait).
Awal munculnya
Syi’ah disebabkan oleh arbitrase (Tahkim) antara Ali bin Abi Thalib dan
Muawiyah bin Abi Sufyan. Setelah kejadian arbitrase (Tahkim) umat Islam
ada yang mendirikan golongan tersendiri. Setidaknya ada dua golongan yang
muncul yakni, Syi’ah dan Khawarij.
Syi’ah
merupakan pendukung setia Ali bin Abi Thalib sedangkan Khawarij merupakan
kelompok yang tidak setuju arbitrase (Tahkim) dilakukan. Khawarij
beranggapan bahwa arbitrase (Tahkim) tidak perlu dilakukan karena Ali
bin Abi Thalib merupakan khalifah yang sah dan di sisi lain, Muawiyah bin Abi
Sufyan merupakan pembangkang.
Ketika kegiatan
arbitrase (Tahkim), istilah syi’ah tidak terlalu condong maknanya kepada
pengikut Ali bin Abi Thalib saja. Selain terdapat Syi’ah yang mendukung Ali bin
Abi Thalib, terdapat pula syi’ah Muawiyah bin Abi Sufyan. Hal ini karena Syi’ah
masih diartikan pengikut biasa. Hal ini dapat dibuktikan dalam naskah arbitrase
(Tahkim).[2]
Abdullah bin Saba’
Sebagian besar
ulama sepakat bahwa yang mencetuskan Syi’ah adalah seorang pendeta Yahudi yang
pura-pura masuk Islam yakni Abdullah bin Saba’. Terdpat beberapa ulama Syi’ah tidak mengakui Abdullah
bin Saba’ sebagai tokoh pencetus Syiah, namun hal itu tidak dapat dipercaya.
Bagi kelompok
yang tidak mengakui, hal itu dikarenakan rasa malu mereka dengan sosok tokoh
pencetus Syi’ah yang berasal dari Yahudi. Mereka mengatakan bahwa Abdullah bin
Saba’ hanya tokoh imajinasi yang segaja dibuat untuk menjatuhkan golongan
Syi’ah.
Namun, pendapat
-kelompok Syi’ah yang tidak mengakui Abdullah bin Saba’- itu tidak memiliki
argumen yang kuat. Bahkan, ulama Syi’ah terkemukan seperti Sa’ad bin Abdullah
al-Qumy, al-Naubakhti, al-Kusyi dalam bukunya ”Rijal al-Kusyi”, Abdullah
al-Nasyi’ al-Akbar dalam bukunya “Masail Imamah”, Abdullah al-Mamaqi dalam
bukunya “Tanqih al-Maqal” menyebutkan tokoh Abdullah bin Saba’ dalam karyanya.
Jika mengatakan
Abdullah bin Saba’ adalah tokoh imajinasi maka, mereka tidak mempercayai ulama
Syi’ah dan membatalkan buku-buku Syi’ah tentang raawi-rawi hadits.[3]
Sedikit
membahas tokoh Abdullah bin Saba’, dia merupakan seorang pendeta Yahudi yang
pura-pura masuk Islam. Dia masuk Islam karena ingin menghancurkan Islam dari
dalam.
Mengenai tokoh
ini, pernah sekali Abdullah bin Saba’ mengatakan “engkaulah Allah.” Kepada Ali
bin Abi Thalib. Ali bermaksud untuk membunuhnya namun hal itu dicegah oleh Ibnu
Abbas karena beberapa pertimbangan. Akhirnya Abdullah bin Saba’ diusir.
Abdullah bin Saba pindah ke Iran. Di Iran, Abdullah bin Saba tidak jera. Ia
disana masih menyebarkan paham-paham sesatnya.
Pendapat Syi’ah tentang al-Qur’an dan Hadits
Menurut Syi’ah
al-Qur’an yang beredar sekarang sudah diubah, ditambah dan diukurangi oleh para
Sahabat Nabi. Mereka berpendapat bahwa, al-Qur’an yang asli dipegang oleh Ali
bin Abi Thalib kemudian diwariskan kepada keturunannya dan sekarang dipegang
oleh Imam Maahdi al-Muntazhar.[4]
Menurut mereka,
al-Qur’an yang ada sekarang tidak dapat dijadikan hujjah kecuali oleh juru
tafsir dari kalangan Syi’ah. Mereka hanya mempercayai perkataan imam-iman dan
ulama-ulama Syi’ah.
Hal diatas
mereka lakukan juga kepada hadits. Mereka tidak percaya kepada hadits yang
diriwayatkan oleh selain Ahlu Bait.
Adapun selain Ahlu Bait mereka tolak. Ini berarti Syi’ah membuang ribuan
hadits Nabi Saw.
Syi’ah juga
menganggap bahwa hadits bukan saja bersumber dari perkataan, perbuatan dan
persetujuan Nabi Saw. Mereka juga percaya bahwa perkataan, perbuatan dan
persetujuan Imam-imam Syi’ah juga termasuk hadits.
Syarat-syarat
seorang perawi tidak terlalu diperhatikan oleh Syi’ah. Syarat utama seorang
perawi yakni harus dari kalangan Syi’ah. Hal ini juga yang menyebabkan pertentangan
antara Syi’ah dan Sunni.

Komentar
Posting Komentar