Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label Puisi

Nama Bersajak

Nama Bersajak Merajut asma cinta teriring hati yang mendikte Mengakar indah di sela-sela ranumnya lambe Mengecap ritme puisi bersajak abece Kini akal dan hayal sudah mulai terpetak Memompa darah pekat ke jantung berdetak Memaksa pancaran sinar hati yang terbelalak Memang engkau sang nama bersajak Inginku kaulah pelipur duka Namun lambe tak sampai niat keluarkan kata cinta Sebab cinta tersekat dangkalnya makna Hanya yakin yang masih membuatku percaya Sarang Hagenni??? 

Absurditas Cinta

Absurditas Cinta Absurditas cinta membuatnya indah Dimulai dari tatapan hingga hati mulai terpanah Akalpun tak sanggup hingga ia mulai punah Memang indah dengannya mengukir sejarah             Energinya abadi             Hadirnya dinanti             Prosesnya berarti             Tapi . . .             Akhirnya mati Ha . . . Haha . . . Hahaha . . . Haha . . . Ha . . . Dia mulai membuatku gila Menyeretku ke ruang gelap nan hampa Mata melihatpun ku tak bisa Hanya cinta sebagai petunjuk cinta 

Perwakilanku

Perwakilanku Sejuta cawan aspirasi pilihan Menampung asa, cita serta impian Disuguhkan dengan pedasnya kritikan Menjadi khalifah perwakilan Tuhan Wahai tuan, Camkan!!! Perkataanmu takan pernah ku anggap firmah Tuhan Karena semua hanya retorika bisikan setan Namun langit tak memberiku banyak pilihan Terpaksa ku patuh titahmu tuan Air mata pena yang kuteteskan Menggoreskan harapan manusia, hewan serta tumbuhan Menjamak semua jerit tangis dan keluhan Semoga janji iman mereka tetap tersimpan

Akal dan Kaki

Hari ini akal dan kaki berkecamuk Hati menimbang tak menghiraukan nyamuk Akal masa depan kesana kesini sibuk Kaki memijak hilangkan kikuk Tuhan. . . Relakan aku patahkan kaki-Mu Biarkan aku nyaman bersama akal semu Dirikanlah diamku dalam sebuah ilmu Walaupun sulit kuterima kuasa-Mu Namun. . . Niat qalbu yang terpaku Doa yang tersusun baku Kaki yang kulangkahkan maju Semua demi Kau yang satu

Lalu

Dimana Lalu berada Dalam sunyi ku menyapa Disini ku berdiri lama Tertelan bunyi tak terasa Kesunyian dini tak kan menanti Kematian jiwa yang berganti Kesucian batinpun tak peduli Tetap hati tertusuk belati Hidung ini bisa mendengar ketika melihat Berjalan kaki hati memahat Kini telingaku tak lagi bisa mengumpat Hanya Lalu di nadiku erat Bisakah kau baca ini? Menuliskan Cerita tak berarti Bisakah kau pahami? Binar mata cerminan hati

Lazuardi dan Iman

lazuardi merah menyala. mahal, permata nun batu mulia. iman dengan cahaya Ilahi berpatri dengan jiwa. sungguh melebihi lazuardi itu harganya,   dan sudah pasti tak terhitung nilainya. ia tak bisa dijual dan dibeli. sungguh mulia yang memilikinya. atas hidayah-Nya iman itu tetap hidup. pertahankan! kokohkan! itulah tiket untuk bersua dengan-Nya. -Anggi Suryadi, Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Prodi Tafsir Hadits-

Jangan Khawatir

Aku berkarya tak tahu arah Angin berhembus kemana   Aku berlaru kemana Gelap sudah tergenlincir tanpa cerca cahaya Impian terjatuh ambruk jika kemana ilmu Namun jangan khawatir! Di sini banyak madu yang bisa dikecap Tentu dengan tangan dan tengadahnya Jangan malas! Giatlah bekerja dengan sekuatnya. Berdoalah! merendah karna hina asa di mata-Nya. -Anggi Suryadi, Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Prodi Tafsir Hadits-

Tuhan, Aku dan Semesta

Fluida tetesan hujan akan saksi hamba hina bersimpuh tafakuri semesta. Planet, bintang, puing-puing, atau gugusan benda angkasa dan bumi sebagai cawan. Manusia, hewan, tetumbuhan hutan yang asri bukti hadirnya Dia Pencipta mangkuk bumi. Ia menghirup udara, membuka mata. Segar dan tenang menguak asa dalam dada. Siapa yang menciptakan semua ini? Sebenarnya ia sudah tahu jawabnya. Ia kembali memejamkan mata. Sudahkah berterima kasih pada Tuhan? Sambil terpejam, mentafakuri dengan mata dan hati basah. Belum, kau belum berterima kasih. Suara itu mendesah. Siapa yang mengucapkan itu? Hati dan tubuhnya bergetar. Malaikat ataukah naluri? Ia beristigfar dan memohon ampun dalam diam di dekat tanaman rimbun. Juga hatinya bertasbih, bertahmid, bertakbir Padu Allah, Tuhan yang Akbar. -Anggi Suryadi, Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah, Prodi Tafsir Hadits-

Emanasi Kesepian

Emanasi Kesepian Malam bintang menggeliat bisu menunggu Mata kantuk tak terpejam dungu Hati lusuh terasa pilu Derita air matapun tergerutu Semua berkicau tak pernah risau menyayat ruh jasad menusuk pisau Namun mereka hanya tertawa bergurau menghapus asa gapai gemerlap cahaya berkilau Hai. . . Lihatlah aku di ufuk matamu menderita siang malam ku tak mau mendaki langit kan ku tuju asalkan hancurkan sepiku