Tauhidullah Dalam Konsep Surat al-Ikhlash
Oleh: Yudi Setiadi[1]
Konsep tentang Tuhan sangat mempengaruhi pola kehidupan setiap individu.
Orang yang percaya akan adanya Tuhan Yang Esa akan menjalani kehidupan yang
berbeda dengan orang yang tidak percaya dengan adanya Tuhan. Sebagai contoh,
orang yang percaya terhadap Tuhan Yang Esa –Dan mengaplikasikan konsekuensi
atas hal tersebut- akan menjalani kehidupan dengan jujur. Hal ini dikarenakan
dia percaya bahwa Tuhannya pasti memperhatikannya. Berbeda dengan orang yang
tidak mempercayai Tuhan. Orang yang tidak percaya adanya Tuhan akan cenderung
cuek dan tidak amanah dalam melakukan sesuatu –Walaupun hal ini bukan suatu
kemutlakan.
Sejarah mencatat, manusia telah mengakui adanya Tuhan sejak lama. Namun, keyakinan mereka terhadap
Tuhan tidak memberikan dampak positif terhadap kehidupannya. Sebagai contoh,
orang-orang arab jahiliyah. Mereka mengakui adanya Tuhan, yakni Allah. Namun
pada waktu yang sama mereka menyekutukannya dengan berhala –Sebagai perantara
kepada Allah, Tuhan yang mereka sembah. Maka dari itu, Allah Swt. menurunkan
agama Islam dan menghadiahkan Nabi Muhammad Saw. kepada manusia.
Islam hadir untuk meluruskan pemahaman sesat manusia terhadap Tuhan.
Islam memberikan konsep Tuhan yang sangat jelas yakni Tauhidullah. Tauhidullah
yakni mensucikan Allah Swt. yang tidak mempunyai permulaan dari menyerupai
dengan makhluk-Nya (التوحيد افراد القديم
من المحدث).[2]
Mempercayai
Allah Swt. Merupakan Fitrah Manusia
Fitrah manusia adalah mengakui dan
mempercayai Allah Swt. sebagai Tuhan Yang Esa. Hanya ada dua kemungkinan
manusia tidak mengakui Allah Swt. sebagai Tuhan Yang Esa. Pertama,
karena manusia tersebut memiliki rasa sombong yang sangat besar, sebagaimana
kesombongan Fir’aun. Perihal Fir’aun, Allah Swt. berfiman:
“. . . hingga
bila Fir'aun itu telah hampir tenggelam berkatalah dia: "Saya percaya
bahwa tidak ada Tuhan melainkan Tuhan yang dipercayai oleh Bani Israil, dan
saya termasuk orang-orang yang berserah diri (kepada Allah). Apakah
sekarang (baru kamu percaya), padahal sesungguhnya kamu telah durhaka sejak
dahulu, dan kamu termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan. (QS. Yunus/10:
90-91)
Satu sisi, ayat ini menjelaskan bahwa
Fir’aun pada akhirnya percaya kepada Allah Swt. Namun, kepercayaannya kepada
Allah Swt. Terlambat. Ayat ini membuktikan sekaligus bahwa kehadiran Tuhan
merupakan fitrah bagi manusia yang merupakan kebutuhannya. Kalaupun ada
yang mengingkarinya, itu sifatnya hanya sementara.[3]
Bukti Keesaan
Tuhan
Dahulu dikenal apa yang disebut
dengan bukti ontologi, kosmologi dan teleologi. Bukti ontologi menggambarkan
bahwa kita mempunyai ‘ide tentang Tuhan’, dan tidak dapat membayangkan adanya
suatu yang lebih berkuasa dari-Nya. Bukti kosmologi berdasarkan pada ‘sebab dan
akibat’ yakni, tidak mungkin terjadi sesuatu tanpa ada penyebab, dan penyebab
terakhir pastilah Tuhan. Bukti teleologi,
berdasarkan pada keragaman dan keserasian alam, yang tidak dapat terjadi tanpa
ada satu kekuatan yang mengatur keserasian itu.[4]
Konsep
Tauhidullah Dalam Surat al-Ikhlash
“Katakanlah: Dia-lah Allah, yang Maha Esa (1). Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala
sesuatu (2). Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan (3). Dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia (4)."
Kata Ikhlash terambil dari kata Khalish yang berarti suci/ murni
setelah sebelumnya memiliki kekeruhan. Ikhlash adalah keberhasilan mengikis dan
menghilangkan kekeruhan itu sehingga suatu yang yang tadinya keruh menjadi
murni. Surah ini mengikis habis segala pandangan yang tidak benar tentang Allah
Swt.[5]
Surat al-Ikhlash ini menetapkan dua
sifat yang disandang oleh Allah Swt. sekaligus menafikan sifat yang tidak
mungkin dimiliki oleh Allah Swt. Ayat pertama menjelaskan bahwa Allah
adalah Tuhan Yang Maha Esa[6]
yakni, Esa dalam Zat, Sifat dan Perbuatan-Nya. Ayat kedua, menjelaskan
bahwa Allah Swt. merupakan yang dituju oleh semua makhluk guna memenuhi kebutuhan.[7]
Ayat ketiga menafikan sifat
yang tidak pantas dimiliki oleh Allah Swt. yakni, tidak pantas memiliki anak
dan bukan peranakan.[8]
Karena anak dipandang sebagai sebuah penerus eksistensi. Hal ini mustahil bagi
Allah Swt. karena Allah Swt. Tidak membutuhkan sesuatu apapun. Keempat,
menafikan segala sesuatu yang setara atau serupa dengan-Nya.[9]
[1]
Mahasiswa Tafsir Hadits,
Fakultas Ushuluddin, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
[2]
Lembaga Penelitian dan
Pengembangan SYAHAMAH, Aqidah Ahlussunnah wal Jama’ah, (Jakarta:
SYAHAMAH Press, 2008), h. 61-62
[3]
M Quraish Shihab, Wawasan
al-Qur’an, (Bandung: Mizan, 1997), h. 18
[4]
Ibid., h. 27
[5]
M Quraish Shihab, al-Lubab,
(Tangerang: Lentera Hati, 2012), Jilid 4, h. 789
[6]
Maha Esa diartikan bahwa Allah
Swt. tidak terdiri dari bagian-bagian atau unsur-unsur.
[7]
M Quraish Shihab, al-Lubab, op.
cit, h. 790
[8]
Ibid.,
[9]
Ibid.,

Komentar
Posting Komentar