Feminisme
Oleh: Yudi Setiadi[1]
Feminisme merupakan suatu paham yang
–menurut tokoh-tokohnya- membela kaum wanita. Kaum feminis menganggap bahwa
kedudukan wanita sebagai manusia selalu dinilai lebih inferior daripada
laki-laki. Mereka selalu menuntut agar dunia membuat kesetaraan antara wanita
dan pria dalam segala hal.
Feminisme adalah salah satu elemen
pemikiran yang lahir dari konsep gender yang dikonstruksikan oleh pemikiran
sekular. Sekular dalam arti memisahkan antara urusan agama dan urusan dunia.
Sebagian besar –kalau kita tidak mau mengatakan semua- tokoh feminis menganggap
bahwa faktor utama ketidaksetaraan yang terjadi bermuara pada konsep agama.
Feminisme muncul pertama kali di
eropa. Terdapat tiga faktor yang menyebabkan munculnya faham feminisme. Pertama,
berkaitan dengan agama yang berkembang di eropa, yakni Kristen. Kedua,
problem yang terdapat di dalam teks bibel. Di dalam bibel terdapat beberapa
ayat yang menyudutkan wanita. “Perempuan (Hawa) yang tergoda iblis untuk memakan buah pohon
pengetahuan dan menyebabkan laki-laki (Adam) ikut memakan buah tsb dan
melanggar larangan Tuhan”. Ketiga, teologi
kristen.
Doktrin Feminisme
Ali Hosein Hakeem dalam bukunya “Membela Perempuan
Menakar Feminisme dengan Nalar Agama” mengatakan bahwa, memang tidak semua kaum
feminis berpikiran sama dan mereka memiliki beberapa kategori golongan
diantaranya feminisme amazon, feminisme liberal, feminisme sosialis dan
feminisme radikal.
Ali Hosein, mengatakan lebih lanjut dalam buku yang sama
bahwa, doktrin utama feminisme yakni, menyetarakan wanita dan laki-laki dalam
segala hal. Namun, jika ditilik kembali, feminisme yang mengatakan bahwa mereka
membela kaum wanita sesungguhnya tidak sepenuhnya benar. Karena pada realitanya
banyak kaum wanita yang tidak setuju dengan faham feminisme.
Salah satu fenomena konkrit yang ada di Indonesia yakni dalam
parlemen. Ada
sekelompok pejuang perempuan yang meminta "quota" 30% dalam
keanggotaan legislatif, kemudian
meminta
daftar nama wanita di taruh
di barisan atas dalam pemilihan. Bahkan iklan tentang hal ini banyak diekspos di televisi. Ini justru sangat
bertentangan dengan perjuangan feminisme. Sebab, jika
mereka meminta
"quota", artinya
kaum wanita yakin
tidak mampu bersaing secara normal (fair) dengan
laki-laki dalam dunia politik, sehingga perlu "quota". Apabila para
aktivis wanita ini yakin
bahwa, kemampuan
wanita sejajar dengan laki-laki
mengapa tidak bersaing secara fair saja. Secara tidak langsung mereka sudah menjatuhkan wanita.
Hakikat Wanita
Dunia akan lebih baik jika sesuatu
ditempatkan sesuai dengan tempatnya. Seperti, wanita dan laki-laki. Masing-masing
memiliki kelebihan dan kekurangan –walaupun kata kurang dianggap kurang pantas.
Wanita dan laki-laki akan saling melengkapi satu sama lain.
Alexis Carrel, pakar Perancis peraih
Nobel bidang kedokteran dan sains, menulis dalam bukunya, “Man The Unknown”
bahwa perbedaan antara laki-laki dan wanita bukannya lahir dari perbedaan alat
kelamin, adanya rahim serta kandungan, atau akibat perbedaan itu lahir dari
sebab yang sangat dalam.
Allah Swt. berfirman “Mereka,
istri-istri kamu adalah pakaian bagi kamu dan kamu pun adalah pakaian bagi
mereka.” (QS. Al-Baqarah/2: 187). M
Quraish Shihab dalam bukunya “Perempuan” mengatakan, salah satu fungsi pakaian
adalah menutup aurat/ hal yang rawan serta kekurangan-kekurangan. Ini berarti
masing-masing memiliki kekurangan yang tidak dapat ditutupi kecuali dengan
bantuan lawan jenisnya.
Wanita dan laki-laki memiliki
tugasnya masing-masing. Wanita lebih mampu melaksanakan pekerjaan yang
melibatkan perasaan dan kelembutan. Hal ini berbeda dengan laki-laki yang sulit
melakukan tugas yang melibatkan perasaan dan kelembutan. Laki-laki lebih
cenderung bekerja dengan kekuatannya. Namun, hal itu tidak menafikan bahwa,
baik wanita maupun laki-laki dapat melakukan pekerjaan yang dilaksanakan lawan
jenisnya.

Komentar
Posting Komentar