Langsung ke konten utama

Konsep Diin al-Islam

Konsep Diin al-Islam
Oleh: Yudi Setiadi[1]

Defenisi Diin
Al-Diin sebagai kata diulang sebanyak 92 kali di dalam al-Qur’an. Kata al-Diin mengandung makna agama, kepercayaan, tauhid, hari pembalasan, tunduk, dan patuh.[2] Dalam Mu’jam al-Wasith al-Diin, yang memiliki jama’ al-Diyaanah, memiliki pengertian “kata untuk seluruh hal yang menyembah kepada Allah.” (اسم لجميع ما يعبد به الله). Lebih lanjut, al-Diin al-Islaam yakni “Meyakini dengan hati, mengikrarkan dengan lisan dan diamalkan dengan rukun-rukunnya.” (الاعتقاد بالجنان والاقرار باللسان وعمل الجوارح بالاركان).[3]
Endang Saifuddin Anshari menegaskan bahwa disebut agama jika setidaknya memiliki tiga hal yakni, 1) taat keyakinan; 2) tata peribadatan; 3) tata kaidah.[4] M.  Quraish Shihab juga mengatakan dalam bukunya, ada tiga unsur pokok yang dapat dikatakan terdapat pada setiap agama: 1) kepercayan tentang adanya Yang Maha Kuasa; 2) kewajiban melakukan hubungan dengan Yang Maha Kuasa dalam bentuk-bentuk tertentu, dan; 3) kepercayaan tentang adanya Hari Pembalasan  dimana keadilan diperoleh secara penuh.[5]
Dari pengertian Endang Saifuddin dan M. Quraish Shihab diatas, dapat diketahui bahwa orang yang beragama harus mengakui adanya Tuhan. Pengakuan tersebut akan menimbulkan efek sosial, yakni interaksi terhadap manusia dan ciptaan Tuhan. Dengan begitu dapat disimpulkan bahwa orang yang beragama dengan baik pasti memiliki hubungan yang baik dengan Tuhannya (Vertikal) serta dengan sesamanya (Horizontal).
Secara umum agama dibagi menjadi dua yakni, agama samawi dana agama bumi. Agama samawi merupakan agama yang bersumber dari wahyu yakni, Yahudi, Nasrani dan Islam. Namun, Yahudi dan Nasrani memiliki peribadatan yang menyimpang. Hal ini dapat dilihat dalam surat al-Fatihah ayat tujuh. Sebagian mufassirin menafsirkan bahwa kata “Ghair al-Magdhubi ‘Alaihim wala al-Dhaalliin” adalah kaum Yahudi dan Nasrani.
Pengikraran Islam
            Ketika Nabi Muhammad Saw. masih hidup, orang yang ingin memeluk Islam bisa menemui Rasul dan berikrar dihadapannya langsung. Atau paling tidak menemui sahabat Rasul. Hal ini dilakukan karena syarat utama masuk Islam yakni bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Rasulullah Muhammad Saw. adalah utusan Allah.
            Bagi Allah Swt., yang pokok adalah ketulusan seseorang meyakini keesaan-Nya dan kerasulan Nabi Muhammad Saw. Sebaliknya –sebagai manusia- kita tidak dapat menyelami hati seseorang, maka yang dituntut dari seseorang untuk diakui muslim adalah pernyataannya yang disampaikan kepada muslim yang lain bahwa dia telah memeluk Islam.[6]
            Pengakuan dari sesama muslim ini sangat diperlukan, karena, hal itu akan berdampak pada perlakuan kepadanya. Seperti, ketika seorang muslim meninggal maka muslim lain wajib memandikan, men-shalatkan, mengkafankan dan mengkubur. Namun, hal yang paling poko dalam memeluk Islam adalah kesaksiannya yang tulus bahwa Allah Tuhannya dan Muhammad Saw. adalah utusan Allah.[7]
Konsep Dasar Keislaman
            Sebagaimana dikatakan diatas, orang yang beragama dengan baik pasti memiliki hubungan yang baik dengan Tuhan dan sesamanya. Nabi Muhammad Saw. menjelaskan tentang perihal agama dengan satu kata yang singkat namun memiliki makna yang luar biasa yakni, al-Din al-Mu’amalah/ agama adalah interaksi (الدين لامعاملة)[8]
            Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Umar bin Khattab Ra.[9] Bahwa ketika Nabi Muhammad Saw. sedang duduk bersama sahabat, tiba-tiba Jibril –menjelma sebagai seorang pria- datang menghampiri Nabi Muhammad Saw. dan bertanya tentang Iman, Islam dan Ihsan.
            Nabi Muhammad menjelaskan bahwa, “Islam adalah engkau bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan sesungguhnya Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan shalat, membayar zakat, berpuasa pada bulan Ramadhan dan mengerjakan ibadah haji ke Baitullah jika mampu.” Dalam hadits lain yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah disebutkan “Islam adalah engkau beribadah kepada Allah saja dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu yang lain, dan menegakkan shalat, dan menunaikan zakat yang wajib, serta berpuasa pada bulan Ramadhan.
            Imam al-Ghazali menjelaskan dalam Kitab Ihya Ulumuddin, bahwa Islam memiliki sifat lebih umum dari iman. Sebagai contoh, orang yang benar-benar beriman adalah seorang muslim. Tapi, setiap muslim belum tentu benar-benar beriman.[10] Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Umar bin Khattab[11] bahwa iman, “Beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, Rasul-rasul-Nya, kitab-kitab-Nya, hari kiamat serta beriman kepada takdir dari Allah Swt.”
            Adapun Ihsan, “beribadah kepada Allah seakan-akan melihat Allah, jika engkau tidak melihat-Nya, sesungguhnya Dia melihatmu.” Ihsan merupakan kebajikan, namun bukan kebajikan biasa. Ia adalah puncak kebajikan. Kata ini digunakan untuk dua hal, pertama, memberi nikmat kepada pihak lain, kedua, perbuatan baik, karena itu kata ihsan lebih luas dari sekedar “memberi nikmat atau nafkah”.[12]
Konsep Toleransi Islam
            Agama Islam merupakan agama yang paripurna sejak pertama kali ia diturunkan. Segala jenis permasalahan yang dialami oleh manusia pasti ada penyelesaiannya dalam Islam, yang terdapat dalam sumber-sumber hukum yang telah disepakati yakni al-Qur’an, sunnah, ijma’ dan qiyas. Dalam hal toleransi, Islam telah menyediakan pilihan yang sangat brilian, bahkan jika kita laksanakan maka tidak akan ada lagi pertikaian yang mengatasnamakan agama.
            Dalam surat al-Kafiruun, Allah Swt. Menjabarkan dengan tegas konsep toleransi. Tujuan diturunkannya surat al-Kafiruun menurut M. Quraish Shihab yakni untuk menciptakan hubungan harmonis dalam kehidupan masyarakat plural tanpa pencampuradukan ajaran agama-agama.[13]
            Surat ini diturunkan sebagai tanggapan atas tawaran kaum musyrikin. Kaum musyrikin menginginkan agar Nabi Muhammad Saw. melakukan ritual sembahyang mereka selama satu tahun dan sebagai imbalannya, mereka bersembahyang dengan cara Islam selama satu tahun kedepan.
            Ayat enam surat ini merumuskan titik temu yang dapat dilakukan yaitu: bagi kamu secara khusus agama kamu. Timbal balik dari hal tersebut, bagi diriku agamaku.[14]





[1] Mahasiswa Tafsir Hadits, Fakultas Ushuluddin, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
[2] Syed Muhammad Naquib al-attas, Islam dan Sekulerisme, (Kuala Lumpur:ISTAC, 1993), h.68
[3] Mu’jam al-Wasith
[4] Endang Saifuddin Anshari, Ilmu, Filsafat, dan Agama: Pendahuluan, Pendidikan Agama Islam di Perguruan Tinggi, (Surabaya: PT. Bina Ilmu, 1979), h.126-129
[5] M. Quraish Shihab, M. Quraish Shihab Menjawab 1001 Soal Keislaman yang Patut Anda Ketahui, (Tangerang Selatan: Lentera Hati, 2014), h. 916-917
[6] M. Quraish Shihab, M. Quraish Shihab Menjawab 1001 Soal Keislaman yang Patut Anda Ketahui, (Tangerang Selatan: Lentera Hati, 2014), h. 704
[7] Ibid., h.705
[8] M. Quraish Shihab, Membumikan al-Qur’an Jilid 2, (Tangerang: Lentera Hati, 2011), h.15
[9] Imam al-Nawawi, Hadits Arba’in, diterjemahkan Tim Sholahuddin, (Jakarta: Sholahuddin Press, 2013), h.8-12
[10] Al-Imam al-Ghazali, Ihya ‘Ulumuddin, diterjemahkan Ibnu Ibrahim Ba’adillah, (Jakarta: PT. Gramedia, 2011),  h.260
[11] Op.Cit,.
[12] M. Quraish Shihab, Membumikan al-Qur’an Jilid 2, (Tangerang: Lentera Hati, 2011), h.29
[13] M. Quraish Shihab, ­al-Lubab, (Tangerang: Lentera Hati, 2012), h.771
[14] Ibid., h.772

Komentar

Postingan populer dari blog ini

منظومة البيقونية (Manzumat al-Baiquniyah) matan dan terjemahan

أَبْـدَأُ بِالحَمْـدِ مُـصَلِّياً علـى * مُحَمَّــدٍ خَيْرِ نَبيِّ أُرْسِلا Aku memulai dengan memuji Allah dan bershalawat atas Muhammad, nabi terbaik yang diutus وَذي مـنْ أقسـامِ الحَديثِ عِدَّهْ * وَكُـلُّ وَاحِـدٍ أَتَى وَعَـدَّهْ Inilah berbagai macam pembagian hadits.. Setiap bagian akan datang penjelasannya أَوَّلُهَا الصَّحِيحُ وَهُـوَ مَا اتَّصَـلّْ* إسْنَادُهُ وَلَمْ يَشُـذَّ أَوْ يُعَـلّْ Pertama hadits shahih yaitu yang bersambung sanad nya, tidak mengandung syadz dan ‘illat يَرْويهِ عَدْلٌ ضَـابِطٌ عَنْ مِثْلِـهِ  * مُعْتَمَـدٌ فِي ضَبْطِهِ وَنَقْلِـهِ Perawi nya ‘adil dan dhabith yang meriwayatkan dari yang semisalnya (‘adil dan dhabith juga) yang dapat dipercaya ke-dhabith-an dan periwayatan nya وَالحَسَنُ المَعْروفُ طُرْقـاً وَغدَتْ * رِجَالَهُ لا كَالصَّحِيحِ اشْتَهَرَتْ (Kedua) Hadits Hasan yaitu yang jalur periwayatannya ma’ruf.. akan tetapi perawinya tidak semasyhur hadits shahih وَكُلُّ مَا عَنْ رُتْبَةِ الحُسْنِ قَصُـرْ * فَه...

Paham al-Sharfah

Paham al-Sharfah Oleh: Yudi Setiadi [1] Al-Sharfah terambil dari kata  صرف ( Sharafa ) yang berarti ‘memalingkan’; dalam arti Allah Swt. memalingkan manusia dari upaya membuat semacam al-Qur’an, sehingga seandainya tidak dipalingkan, maka manusia akan mampu. Dengan kata lain, kemukjizatan al-Qur’an lahir dari faktor ekternal, bukan dari al-Qura’an sendiri. [2]             Ada sebagian pemikir yang mengakui ketidakmampuan manusia menyusun semacam al-Qur’an. Menurut mereka, ini bukan disebabkan oleh keistimewaan al-Qur’an, tetapi lebih disebabkan adanya campur tangan Allah Swt. dalam menghalangi manusia membuat semacam al-Qur’an. Paham ini menamai mukjizat al-Qur’an dengan Mukjizat al-Sharfah . [3] Menurut pandangan orang yang menganut al-Sharfah, Cara Allah Swt. memalingkan manusia ada dua macam. Pertama , mengatakan bahwa semangat mereka untuk menantang dilemahkan Allah Swt. Kedua , menyatakan bahwa cara Allah Swt....

Media Massa: Upaya Melawan Ghazwul Fikri

Media Massa: Upaya Melawan Ghazwul Fikri Oleh: Yudi SEtiadi [1]             Persatuan dan rasa persaudaraan umat Islam yang sangat kuat membuat Islam tidak dapat dikalahkan dalam perang fisik. Bukan itu saja, hal utama yang menjadi titik kekutan Islam adalah keyakinan yang mendalam terhadap ajaran Islam dan kecintaannya terhadap Allah Swt. dan Rasul-Nya. semua itu terbukti dari beberapa perang yang dilakukan umat muslimin mulai dari Perang Badar hingga Perang Salib.             Kekuatan Islam yang tidak dapat dihadapi oleh musuh, membuat musuh Islam menjadi geram. Segala cara dilakukan seperti penghinaan, pemboikotan, ancaman hingga penyerangan fisik dalam jumlah besar. Tapi atas berkat rahmat dan izin Allah Swt. semua itu dapat dihadapi kaum muslim.             Puncak dari kegeraman musuh Islam terjadi ketika k...