Ushuluddin Bertanya, Ahmadiyah Menjawab
Oleh: Yudi Setiadi[1]
Ciputat
- “Kita akan mendengar informasi baru tentang Ahmadiyah dari penulis, Pak Kunto
dan anggota Jemaat Ahmadiyah secara langsung,” ungkap Dekan Fakultas
Ushuluddin, Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta dalam
sambutannya, Rabu (15/4).
Dewan Mahasiswa (Dema) Fakultas Ushuluddin mengadakan bedah buku Tinjauan Kritis Ahmadiyah Indonesia di Ruang teater fakultas Ushuluddin, Rabu (15/4). Buku karangan Kunto Sofianto tersebut membahas perkembangan Ahmadiyah mulai tahun 1931 - 2000.
Buku
tersebut merupakan tulisan disertasi Kunto ketika menyelesaikan gelar Doktor di
Malaysia. “Judul asli buku ini sebenarnya Gerakan Jemaat Ahmadiyah Indonesia di
Jawa Barat 1931 -2000 Penyebaran Ideologi dan Respon Masyarakat,” kata Kunto,
Rabu (15/4).
Ketika
membedah bukunya, Kunto Sufianto ditemani oleh perwakilan jemaat Ahamadiyah,
Mabarik Mahmud sebagai pembanding pertama dan dosen Fakultas Ushuluddin,
Aminuddin sebagai pembanding kedua.
Ahmadiyah masuk pertama kali melalui daerah Aceh, Padang dan sekitarnya. Tiga jemaat Ahmadiyah yang berada di Indonesia mengundang khalifah Ahmadiyah untuk datang ke Indonesia. Namun karena sibuk, akhirnya khalifah Ahmadiyah mengutus Rahmat Ali untuk menyebarkan Ahmadiyah di Indonesia melalui Aceh. “Kemudian dari Aceh menyebar ke Bogor, Garut, Bandung, Tangerang dan lain-lain,” lanjut Kunto. Ia mengatakan, sekitar 75% jemaat Ahmadiyah berada di Jawa Barat yang berpusat di daerah Parung.
Jemaat Ahmadiyah Indonesia telah memiliki struktur organisasi yang tetap. Dalam satu tahun Ahmadiyah mampu mengumpulkan uang 40 Milyar rupiah. Uang tersebut berasal dari sumbangan jemaat Ahmadiyah. Uang tersebut, Kunto mengatakan, digunakan untuk menerjemahkan Al-Qur’an, membuat media cetak, dan video dalam bentuk kaset.
Anggota Jemaat Ahmadiyah Mubarik Mahmud mengungkapkan, beberapa faktor yang membuat Ahmadiyah tetap eksis dan dapat diterima oleh orang Indonesia.
Pertama, pola penyebaran Ahmadiyah dengan sistem perorangan. Sistem perorangan tersebut mengajak satu keluarga untuk bergabung Ahmadiyah kemudian mengajak keluarga besar. Selain mengajak keluarga, Ahmadiyah juga mengajak tokoh masyarakat untuk bergabung, dengan begitu pengikutnya mudah untuk masuk Ahmadiyah.
Kedua, Ahmadiyah mempunyai andil dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia. Hal tersebut dapat dilihat dari pertemua khalifah Ahmadiyah dengan Mantan Presiden Republik Indonesia Abdurrahman Wahid tahun 2000. “Tokoh Ahmadiyah dengan mantan Menteri Agama. Tak ada tuh suruh tobat ke jemaat Ahmadiyah, ujar Mubarik Mahmud sambil menunjuk gambar.
Dosen Fakultas Ushuluddin Aminuddin berkata bahwa Mirza Gulam Ahmad adalah seorang pembaharu Islam. Mirza Gulam Ahamad muncul ketika masyarakat India sedang mengalami kemerosotan dan perpecahan. Sebelum mengakhiri perkataannya, Aminuddin sempat bertanya mengenai konsep kenabian yang diyakini oleh Ahmadiyah.
Ketika Mirza Gulam Ahmad mengaku mendapatkan wahyu dari Allah, ia menafsirkan surat al-Ahzab ayat 40 tidak sesuai dengan mayoritas ulama Sunni. Mirza menafsirkan kata khotiminnabiyyiina dengan makna nabi paling mulia, paling utama, dan paling tinggi. Mirza mengaku sebagai nabi namun tidak membawa syariat baru. Keganjalan tersebut yang Aminuddin pertanyakan kepada Mubarik Mahmud.
Mubarik Mahmud menjawab, dalam kitab Jauharu Maknun tertulis bahwa jika isim mufrod dirangkai dengan isim jamak maka memiliki makna lebih utama, bagitupun kata khotiminnabiyyiina.
Ketua Pelaksana Muhajul Muna, mengatakan acara bedah buku tersebut bertujuan untuk mengembangkan wawasan mahasiswa dalam pengetahuan agama. Bedah buku tersebut, lanjut Muhajul,merupakan sarana dalam menjawab pertanyan mahasiswa seputar Ahmadiyah. “Kebanyakan kita disuguhkan Ahmadiyah sesat, menyimpang dan sebagainya. Maka disini mencoba menjawab pertanyaan tersebut,” kata Muhajul dalam sambutannya.
Hal senada diungkapkan Ketua Dewan Mahasiswa (Dema) Fakultas Ushuluddin Tanwirun Nazir. Ia mengatakan, masyarakat Indonesia telah terkonstruk tentang hal-hal negatif tetang Ahmadiyah tanpa bertanya kepada Jemaat Ahmadiyah. “Kita sebagai Fakultas Ushuluddin yang fokus membahas dasar-dasar agama memang perlu membahas hal semacam ini,” lanjut Tanwir.

Assalamu 'alaikum, artikel yang bagus.
BalasHapus