Langsung ke konten utama

Sabilussalam Mengadakan Lomba Debat

Sabilussalam Mengadakan Lomba Debat
Oleh: Yudi Setiadi[1]

Ciputat - Kamis (19/3) malam, Pondok Pesantren Sabilussalam mengadakan lomba debat dengan tema "Al-arabiyati Li Ihdoil 'Alam". Peserta lomba merupakan perwakilan masing-masing kelas yang terdiri dari tiga orang. Lomba tersebut merupakan salah satu program kerja (proker) dari Kementerian Pengembangan Bahasa (Kemenpebas) Pondok Pesantren (Ponpes) Sabilussalam.

Sabilussalam merupakan Pondok khusus mahasiswa. Sabilussalam terdiri dari empat kelas, yakni, kelas dua A, dua B, empat A, empat B, enam A, dan enam B. Sabilussalam terletak empat kilo meter dari Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta.

Perlombaan debat dimulai dari pukul sembilan malam hingga sebelas malam. Terdapat dua babak dalam perlombaan tersebut. Pertama adalah babak penyisihan dan kedua adalah babak final.

Juara lomba debat bahasa arab dimenangkan oleh kelas empat A dengan nilai 1591. "Peserta dengan jumlah nilai 1267 dari kelas dua B menjadi juara kedua, dan tim dengan nilai 324 nilai kelas dua B adalah juara satu," Ujar Asep Anwar (19/3), Dewan Juri Pertama.
"Dalam lomba bahasa arab yang terpenting adalah berbicara dan mengungkapkan apa yang ada dipikiran," Ujar Ihsan Nasihin, Dewan Juri Kedua, (19/3).

Hal senada Diungkapkan oleh Gita Rahmi, Dewan Juri ketiga. "Dalam sebuah lomba debat terkadang orang takut bahasa arab karena takut Qowaid," ujar Gita, (19/3). Kunci utama agar mahir berbahasa arab adalah keberanian, lanjutnya.

Koordinator Kemenpebas  Miftahul Huda mengungkapkan kendala-kendala ketika acara berlangsung. Pertama, terjadi misscomunication antara dewan juri dan panitia. Kedua, cuaca hujan yang menyebabkan sedikitnya mahasantri yang berpartisi. Ketiga, satu lampu kelas padam ketika hendak digunakan. "Ada sih kendala mah," ucap Koordinator Kemenpebas, Miftahul Huda (20/3).








[1] Mahasiswa Tafsir Hadits, Fakultas Ushuluddin, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Komentar

Postingan populer dari blog ini

منظومة البيقونية (Manzumat al-Baiquniyah) matan dan terjemahan

أَبْـدَأُ بِالحَمْـدِ مُـصَلِّياً علـى * مُحَمَّــدٍ خَيْرِ نَبيِّ أُرْسِلا Aku memulai dengan memuji Allah dan bershalawat atas Muhammad, nabi terbaik yang diutus وَذي مـنْ أقسـامِ الحَديثِ عِدَّهْ * وَكُـلُّ وَاحِـدٍ أَتَى وَعَـدَّهْ Inilah berbagai macam pembagian hadits.. Setiap bagian akan datang penjelasannya أَوَّلُهَا الصَّحِيحُ وَهُـوَ مَا اتَّصَـلّْ* إسْنَادُهُ وَلَمْ يَشُـذَّ أَوْ يُعَـلّْ Pertama hadits shahih yaitu yang bersambung sanad nya, tidak mengandung syadz dan ‘illat يَرْويهِ عَدْلٌ ضَـابِطٌ عَنْ مِثْلِـهِ  * مُعْتَمَـدٌ فِي ضَبْطِهِ وَنَقْلِـهِ Perawi nya ‘adil dan dhabith yang meriwayatkan dari yang semisalnya (‘adil dan dhabith juga) yang dapat dipercaya ke-dhabith-an dan periwayatan nya وَالحَسَنُ المَعْروفُ طُرْقـاً وَغدَتْ * رِجَالَهُ لا كَالصَّحِيحِ اشْتَهَرَتْ (Kedua) Hadits Hasan yaitu yang jalur periwayatannya ma’ruf.. akan tetapi perawinya tidak semasyhur hadits shahih وَكُلُّ مَا عَنْ رُتْبَةِ الحُسْنِ قَصُـرْ * فَه...

Paham al-Sharfah

Paham al-Sharfah Oleh: Yudi Setiadi [1] Al-Sharfah terambil dari kata  صرف ( Sharafa ) yang berarti ‘memalingkan’; dalam arti Allah Swt. memalingkan manusia dari upaya membuat semacam al-Qur’an, sehingga seandainya tidak dipalingkan, maka manusia akan mampu. Dengan kata lain, kemukjizatan al-Qur’an lahir dari faktor ekternal, bukan dari al-Qura’an sendiri. [2]             Ada sebagian pemikir yang mengakui ketidakmampuan manusia menyusun semacam al-Qur’an. Menurut mereka, ini bukan disebabkan oleh keistimewaan al-Qur’an, tetapi lebih disebabkan adanya campur tangan Allah Swt. dalam menghalangi manusia membuat semacam al-Qur’an. Paham ini menamai mukjizat al-Qur’an dengan Mukjizat al-Sharfah . [3] Menurut pandangan orang yang menganut al-Sharfah, Cara Allah Swt. memalingkan manusia ada dua macam. Pertama , mengatakan bahwa semangat mereka untuk menantang dilemahkan Allah Swt. Kedua , menyatakan bahwa cara Allah Swt....

Media Massa: Upaya Melawan Ghazwul Fikri

Media Massa: Upaya Melawan Ghazwul Fikri Oleh: Yudi SEtiadi [1]             Persatuan dan rasa persaudaraan umat Islam yang sangat kuat membuat Islam tidak dapat dikalahkan dalam perang fisik. Bukan itu saja, hal utama yang menjadi titik kekutan Islam adalah keyakinan yang mendalam terhadap ajaran Islam dan kecintaannya terhadap Allah Swt. dan Rasul-Nya. semua itu terbukti dari beberapa perang yang dilakukan umat muslimin mulai dari Perang Badar hingga Perang Salib.             Kekuatan Islam yang tidak dapat dihadapi oleh musuh, membuat musuh Islam menjadi geram. Segala cara dilakukan seperti penghinaan, pemboikotan, ancaman hingga penyerangan fisik dalam jumlah besar. Tapi atas berkat rahmat dan izin Allah Swt. semua itu dapat dihadapi kaum muslim.             Puncak dari kegeraman musuh Islam terjadi ketika k...