Langsung ke konten utama

Rehabilitas Ka’bah

Rehabilitas Ka’bah
Oleh: Yudi Setiadi[1]


Ka'bah adalah tempat yang disucikan sejak dulu sejak zaman nabi Ibrahim AS. banyak sekali orang yang berkunjung untuk menunaikan ibadah haji dirumah Allah tersebut. mulai dari anak kecil hingga orang yang sudah tua, mereka amat sekali mengunjungi rumah yang disucikan oleh orang-orang Arab khususnya kaum Quraisy.  
Namun, ketika nabi Muhammad berusia kurang lebih 35 tahun. Ka'bah pernah direnovasi. banyak sekali perdebatan antar suku dalam hal merenovasi ka'bah. mereka ragu-ragu dalam melakukan hal tersebut karena takut mengotori kesucian rumah Allah tersebut. 
Ketika orang-orang sekitar berniat ingin merenovasi ka'bah, tiba-tiba muncul seekor ular yang cukup besar dari bawah tanah didekat ka'bah. lalu orang-orangpun berfikir bahwa Allah tidak meridhoi hal yang ingin mereka kerjakan. ular itu selalu berada dibawmuah terik matahari didekat bangunan ka'bah. ular itu selalu sigap menegakan kepalanya ketika ada orang yang ingin mendekati Ka'bah, mulutnya terbuka lebar seakan tak ada yang boleh mengganggunya, ekornya pun bergerak seketika ketika orang hendak mendekatinya.
Namun selang beberapa hari setelah kemunculannya, ada seekor burung yang datang dari langit menukik dan membawa ular itu. seketika orang-orang yang berada disekitar ka'bah bergembira. "mungkin ini adalah petanda bahwa Tuhan telah meridhoi kita untuk merenovasi ka'bah" kata seseorang. Lalu ada seseorang yang memberanikan diri mendekati ka'bah dan mengangkat batu dari atap dinding Ka'bah ia adalah Abu Wahb dari bani Makhzum, namun ketika diangkat batu itu terlepas dan kembali ketempat semula. mereka yang ada disekitar langsung menyingkir. kemudian pemimpin Makhzum yaitu Walid mengambil sebuah palu dan berkata " Ya Tuhan jangan takut, kami hanya ingin melakukan kebajikan" lalu ia merobohkan dinding ka'bah. orang-orang disekitarnya bercakap "biarkanlah ia melakukannya dulu, apabila ia meninggal mari kita hentika hal ini tapi apabila ia baik-baik saja mari kita lanjutkan niat kitaini".
Hari bertemu hari namun keadaan Walid baik-baik saja, akhirnya orang-orang memutuskan untuk merenovasi ka'bah, mereka beranggapan bahwa Tuhan telah meridhoi niat mereka. mereka segera mengambil batu dan kayu yang mereka bisa kumpulkan. 
Setelah Ka'bah telah selesai direnovasi, ada perdebatan yang sangat sengit dianatara semua suku. mereka memperdebatkan siapa yang berhak untuk menaruh kembali batu hajar aswad. bahkan dalam perdebatan tersebut hampir saja menimbulkan pertumpahan darah. namun ada sebuah usul dari seorang kakek-kakek "bagaimana jika kita memilih orang untuk menjadi penengah dalam kasus ini, siapa saja yang esok memasuki Masjid (daerah sekitar ka'bah) paling pertama maka ia berhak menentukan keputusan" semua orangpun setuju.
Ternyata keesokan harinya, yang pertama memasuki masjid pertama kali adalah Nabi Muhammad SAW, orang-orangpun setuju pada penunjukan Muhammad karena ia adalah AL-Amiin.
Setelah diceritkan masalah mereka akhirnya Muhammad menyuruh untuk mengambil selimut. kemudian dibentangkanlah selimut tersebut lalu diletakanlah batu hajar aswad ditengahnya. lalu setiap dari perwakilan suku diperbolehkan untuk memegang ujung dari sleimut tersebut sampai kedekat ka'bah. setelah didekat ka'bah, lalu Muhammad mengambil batu hajar aswad dan meletakan kembali ke tempatnya. setelah itu perenovasian Ka'bah dilanjutkan kembali.
Wallahu a'lam...





[1] mahasiswa Tafsir Hadits, Fakultas Ushuluddin, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Komentar

Postingan populer dari blog ini

منظومة البيقونية (Manzumat al-Baiquniyah) matan dan terjemahan

أَبْـدَأُ بِالحَمْـدِ مُـصَلِّياً علـى * مُحَمَّــدٍ خَيْرِ نَبيِّ أُرْسِلا Aku memulai dengan memuji Allah dan bershalawat atas Muhammad, nabi terbaik yang diutus وَذي مـنْ أقسـامِ الحَديثِ عِدَّهْ * وَكُـلُّ وَاحِـدٍ أَتَى وَعَـدَّهْ Inilah berbagai macam pembagian hadits.. Setiap bagian akan datang penjelasannya أَوَّلُهَا الصَّحِيحُ وَهُـوَ مَا اتَّصَـلّْ* إسْنَادُهُ وَلَمْ يَشُـذَّ أَوْ يُعَـلّْ Pertama hadits shahih yaitu yang bersambung sanad nya, tidak mengandung syadz dan ‘illat يَرْويهِ عَدْلٌ ضَـابِطٌ عَنْ مِثْلِـهِ  * مُعْتَمَـدٌ فِي ضَبْطِهِ وَنَقْلِـهِ Perawi nya ‘adil dan dhabith yang meriwayatkan dari yang semisalnya (‘adil dan dhabith juga) yang dapat dipercaya ke-dhabith-an dan periwayatan nya وَالحَسَنُ المَعْروفُ طُرْقـاً وَغدَتْ * رِجَالَهُ لا كَالصَّحِيحِ اشْتَهَرَتْ (Kedua) Hadits Hasan yaitu yang jalur periwayatannya ma’ruf.. akan tetapi perawinya tidak semasyhur hadits shahih وَكُلُّ مَا عَنْ رُتْبَةِ الحُسْنِ قَصُـرْ * فَه...

Paham al-Sharfah

Paham al-Sharfah Oleh: Yudi Setiadi [1] Al-Sharfah terambil dari kata  صرف ( Sharafa ) yang berarti ‘memalingkan’; dalam arti Allah Swt. memalingkan manusia dari upaya membuat semacam al-Qur’an, sehingga seandainya tidak dipalingkan, maka manusia akan mampu. Dengan kata lain, kemukjizatan al-Qur’an lahir dari faktor ekternal, bukan dari al-Qura’an sendiri. [2]             Ada sebagian pemikir yang mengakui ketidakmampuan manusia menyusun semacam al-Qur’an. Menurut mereka, ini bukan disebabkan oleh keistimewaan al-Qur’an, tetapi lebih disebabkan adanya campur tangan Allah Swt. dalam menghalangi manusia membuat semacam al-Qur’an. Paham ini menamai mukjizat al-Qur’an dengan Mukjizat al-Sharfah . [3] Menurut pandangan orang yang menganut al-Sharfah, Cara Allah Swt. memalingkan manusia ada dua macam. Pertama , mengatakan bahwa semangat mereka untuk menantang dilemahkan Allah Swt. Kedua , menyatakan bahwa cara Allah Swt....

Media Massa: Upaya Melawan Ghazwul Fikri

Media Massa: Upaya Melawan Ghazwul Fikri Oleh: Yudi SEtiadi [1]             Persatuan dan rasa persaudaraan umat Islam yang sangat kuat membuat Islam tidak dapat dikalahkan dalam perang fisik. Bukan itu saja, hal utama yang menjadi titik kekutan Islam adalah keyakinan yang mendalam terhadap ajaran Islam dan kecintaannya terhadap Allah Swt. dan Rasul-Nya. semua itu terbukti dari beberapa perang yang dilakukan umat muslimin mulai dari Perang Badar hingga Perang Salib.             Kekuatan Islam yang tidak dapat dihadapi oleh musuh, membuat musuh Islam menjadi geram. Segala cara dilakukan seperti penghinaan, pemboikotan, ancaman hingga penyerangan fisik dalam jumlah besar. Tapi atas berkat rahmat dan izin Allah Swt. semua itu dapat dihadapi kaum muslim.             Puncak dari kegeraman musuh Islam terjadi ketika k...