Langsung ke konten utama

Islam Tak Pernah Memaksa

Islam Tak Pernah Memaksa
Oleh: Yudi Setiadi[1]

Manusia adalah makhluk sosial yang saling membutuhkan satu sama lain dengan cara interaksi. Dalam Islam interaksi yang baik adalah interaksi yang menimbulkan kebaikan-kebaikan yang mengakar pada urat nadi setiap manusia. Dalam berinteraksi Islam mewajibkan penganutnya untuk menyeru semua manusia agar dapat mengikuti jalan yang dibenarkan oleh Allah SWT, sebagaimana Firman Allah dalam surat An-Nahl ayat 126 yang berbunyi,

ادْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ
“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik serta bantahlah mereka dengan cara yang  baik.  Sesungguhnya Tuhanmu Dialah  yang lebih mengetahui siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk” (AN-Nahl: 125)
            Ada satu hal menarik dari ajaran Islam. Walaupun Islam mengharuskan penganutnya untuk menyebarkan ajarannya kepada seluruh manusia yang ada dibumi, tapi Islam tak pernah sekalipun mengajarkan kekerasan dalam hal tersebut. Islam lebih menganjurkan kepada kehalusan dalam tutur kata dan kesopan santunan dalam berperilaku.
            Jika banyak orang yang mengatakan bahwa Islam mengajarkan kekerasan dan pemaksaan, itu semua salah besar. Karena jelas-jelas Allah SWT berfirman,

لا إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ قَدْ تَبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَي
“Tidak ada paksaan dalam (menganut) agama (Islam)”      
            Dalam Ayat tersebut dijelaskan bahwa sesungguhnya ayat-ayat Allah SWT telah jelas dan nampak, sehingga tanpa dipaksapun –jikalau memiliki akal dan pikiran yang sehat serta kejujuran dalam hatinya- manusia akan menyadari keharusan mentauhidkan Allah SWT.
            Barang siapa yang diberi petunjuk oleh Allah SWT,dibukakan jalan keluar atas kegelapan, dan diberikan setitik cahaya kepada hatinya yang gelap, maka ia akan memeluk Islam dengan hati nuraninya sendiri.
            Imam Ahmad dari Anas bahwa Rasulullah SWT berkata kepada laki-laki, “Masuk Islamlah”, ia menjawab, “aku merasakan tidak suka”, Nabi berkata, “meskipun hatimu tidak suka”. (Ahmad III/181. (Shahih: Dishahihkan oleh Syaikh AL-albani dalam Silsilah Ash-Shahihain no 1454))
Dari sini tidak boleh kita interpretasikan bahwa Rasulullah memaksa laki-laki tersebut. Nabi tidak memaksanya, Nabi hanya mengajak ia untuk masuk kedalam ajaran Islam. Nabi mengajak laki-laki tersebut kedalam ajaran Islam karena dalam ajaran Islam manusia akan mendapatkan karunia niat yang baik dan keikhlasan dari Allah SWT.
Dalam sejarahnya, Islam telah menorehkan tinta emas kejayaan dalam hal toleransi dan sikap saling menghargai, salah satunya dari isi Piagam Madinah yang disebut-sebut sebagai peraturan pertama yang ditulis yang telah dirumuskan oleh Nabi Muhammad SAW. Saat sudah menetap di Madinah, Nabi Muhammad SAW mulai mengatur hubungan antar individu di Madinah. Berkait tujuan ini, Nabi Muhammad SAW menulis sebuah peraturan yang dikenal dengan sebutan Piagam Madinah.
Jika diteliti secara seksama isi Piagam Madinah sangat mencerminkan toleransi, mengegaliterkan manusia dan menolak adanya pemaksaan, hal itu bisa kita lihat dari sebagian isi Piagam Madinah yang berbunyi “Kaum Yahudi memikul biaya bersama mukminin selama dalam peperangan” dan “Kaum Yahudi berkewajiban menanggung biaya perang mereka dan kaum muslimin juga berkewajiban menanggung biaya perang mereka. Kaum muslimin dan Yahudi harus saling membantu dalam menghadapi orang yang memusuhi pendukung piagam ini, saling memberi nasehat serta membela pihak yang terzhalimi”.
            Dan ada satu tambahan rasional kenapa Islam tidak pernah memaksa manusia untuk masuk kedalam ajaran Islam yakni, ketika Islam tengah menghadapi masa kejayaannya pada masa Nabi Muhammad SAW. Nabi Muhammad tidak pernah sekalipun memaksa, mengisolir, dan mengintimidasi suatu kaum. Bahkan kepada nenek-nenek buta yang sering menghina Nabipun, Nabi Muhammad masih bersedia menyuapi nenek-nenek tersebut bahkan nenek-nenek tersebut tidak mengetahui bahwa yang menyuapinya selama ini adalah Nabi Muhammad SAW.
            Dari data-data yang telah dipaparkan, bisa kita simpulkan bahwa Islam yang diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW tidak pernah sekalipun mengajarkan pemaksaan dalam memeluk ajaran Islam.






[1] mahasiswa Tafsir Hadits, Fakultas Ushuluddin, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Komentar

Postingan populer dari blog ini

منظومة البيقونية (Manzumat al-Baiquniyah) matan dan terjemahan

أَبْـدَأُ بِالحَمْـدِ مُـصَلِّياً علـى * مُحَمَّــدٍ خَيْرِ نَبيِّ أُرْسِلا Aku memulai dengan memuji Allah dan bershalawat atas Muhammad, nabi terbaik yang diutus وَذي مـنْ أقسـامِ الحَديثِ عِدَّهْ * وَكُـلُّ وَاحِـدٍ أَتَى وَعَـدَّهْ Inilah berbagai macam pembagian hadits.. Setiap bagian akan datang penjelasannya أَوَّلُهَا الصَّحِيحُ وَهُـوَ مَا اتَّصَـلّْ* إسْنَادُهُ وَلَمْ يَشُـذَّ أَوْ يُعَـلّْ Pertama hadits shahih yaitu yang bersambung sanad nya, tidak mengandung syadz dan ‘illat يَرْويهِ عَدْلٌ ضَـابِطٌ عَنْ مِثْلِـهِ  * مُعْتَمَـدٌ فِي ضَبْطِهِ وَنَقْلِـهِ Perawi nya ‘adil dan dhabith yang meriwayatkan dari yang semisalnya (‘adil dan dhabith juga) yang dapat dipercaya ke-dhabith-an dan periwayatan nya وَالحَسَنُ المَعْروفُ طُرْقـاً وَغدَتْ * رِجَالَهُ لا كَالصَّحِيحِ اشْتَهَرَتْ (Kedua) Hadits Hasan yaitu yang jalur periwayatannya ma’ruf.. akan tetapi perawinya tidak semasyhur hadits shahih وَكُلُّ مَا عَنْ رُتْبَةِ الحُسْنِ قَصُـرْ * فَه...

Paham al-Sharfah

Paham al-Sharfah Oleh: Yudi Setiadi [1] Al-Sharfah terambil dari kata  صرف ( Sharafa ) yang berarti ‘memalingkan’; dalam arti Allah Swt. memalingkan manusia dari upaya membuat semacam al-Qur’an, sehingga seandainya tidak dipalingkan, maka manusia akan mampu. Dengan kata lain, kemukjizatan al-Qur’an lahir dari faktor ekternal, bukan dari al-Qura’an sendiri. [2]             Ada sebagian pemikir yang mengakui ketidakmampuan manusia menyusun semacam al-Qur’an. Menurut mereka, ini bukan disebabkan oleh keistimewaan al-Qur’an, tetapi lebih disebabkan adanya campur tangan Allah Swt. dalam menghalangi manusia membuat semacam al-Qur’an. Paham ini menamai mukjizat al-Qur’an dengan Mukjizat al-Sharfah . [3] Menurut pandangan orang yang menganut al-Sharfah, Cara Allah Swt. memalingkan manusia ada dua macam. Pertama , mengatakan bahwa semangat mereka untuk menantang dilemahkan Allah Swt. Kedua , menyatakan bahwa cara Allah Swt....

Media Massa: Upaya Melawan Ghazwul Fikri

Media Massa: Upaya Melawan Ghazwul Fikri Oleh: Yudi SEtiadi [1]             Persatuan dan rasa persaudaraan umat Islam yang sangat kuat membuat Islam tidak dapat dikalahkan dalam perang fisik. Bukan itu saja, hal utama yang menjadi titik kekutan Islam adalah keyakinan yang mendalam terhadap ajaran Islam dan kecintaannya terhadap Allah Swt. dan Rasul-Nya. semua itu terbukti dari beberapa perang yang dilakukan umat muslimin mulai dari Perang Badar hingga Perang Salib.             Kekuatan Islam yang tidak dapat dihadapi oleh musuh, membuat musuh Islam menjadi geram. Segala cara dilakukan seperti penghinaan, pemboikotan, ancaman hingga penyerangan fisik dalam jumlah besar. Tapi atas berkat rahmat dan izin Allah Swt. semua itu dapat dihadapi kaum muslim.             Puncak dari kegeraman musuh Islam terjadi ketika k...