Langsung ke konten utama

Mempertanyakan Realisasi Pemberantasan Gepeng di Tangsel

Mempertanyakan Realisasi Pemberantasan Gepeng di Tangsel
Oleh: Yudi Setiadi[1]

Ciputat - Gelandangan dan pengemis (Gepeng) yang menjamur di sekitar Kota Tangerang Selatan pada dasarnya merupakan tanggungjawab Pemerintah Kota (Pemkot) Tangerang Selatan. Pemkot bertanggungjawab penuh atas kebutuhan gepeng.

Demikian disampaikan oleh Pengamat sekaligus Kepala Jurusan (Kajur) Kesejahteraan Sosial Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Lisma Dyawati Fuaida, Senin (21/9), saat ditemui di kantornya, Kota Tangerang Selatan, Banten.

“Kalo dilihat secara sepintas saja, memang ini (fenomena gepeng) kelihatannya cukup memperihatinkan,” lanjutnya. Keberadaan mereka seharusnya dikontrol, ditindak atau dilakukan pendekatan-pendekatan yang dibutuhkan oleh pemerintah kota.

Ketua Seksi Rehabilitasi Tuna Sosial dan Korban Penyalahgunaan Napza Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Dinsosnakertrans) Kota Tangerang Selatan, Hadiana mengklaim bahwa jumlah gepeng di Kota Tengerang Selatan mengalami penurunan. “Gepeng Tangsel sebenarnya jarang, semuanya urban,” kata Hadiana, Jum’at (18/9) di Kantor Dinsosnakertrans, Kota Tangerang Selatan, Banten.

Gepeng sekitar Kota Tangerang Selatan didominasi oleh pendatang dari daerah Brebes, Boyolali, Cirebon dan Indramayu. “Itu (Semua) udah Pasti,” katanya.

Secara sistem ekonomi, Hadiana mengatakan, gepeng pada dasarnya memiliki tiga masalah. Pertama, Masalah pendidikan kurang; kedua, daerah asal yang tidak memungkinkan sumber daya manusia (SDM) berkembang; ketiga kebiasaan dengan mental yang rusak atau mental yang lemah. “Mereka terbiasa dengan mencari belaskasihan tanpa mau bekerja keras,” lanjutnya.

Mereka menggelandang dan mengemis dikarenakan banyak faktor, misalnya tidak memiliki tempat tinggal, tidak memiliki keluarga dan tidak terkena program pemerintah atau program sosial lainnya. “Ga langsung mereka itu punya mental seperti itu, pasti sudah melalui proses,” ujar Lisma.

Jika ditinjau dari kacamata struktur, sistem merupakan penyebab utama yang membuat mereka menggelandang dan mengemis. Sistem yang membuat mereka miskin dan tak bisa bangkit.

Salah satu kendala Pemkot Kota Tangerang Selatan, sebagaimana dipaparkan oleh Hadiana, yakni belum adanya panti rehabilitas. Pemkot Tangerang Selatan hingga saat ini masih belum memiliki panti rehabilitas sehingga Pemkot Tangerang Selatan terpaksa menitipkan gepeng hasil razia di Panti Sosial Bina Karya Bangun Daya milik Kementerian Sosial. “Kendalanya tidak besar. Yakni panti, tapi bukan suatu alasan,” tandas Hadiana.

Dalam Pasal 39 ayat a Perda Kota. Tangerang Selatan no. 9 Tahun. 2012 tentang Ketertiban `Umum dan Ketentraman Masyarakat dijelaskan bahwa, setiap orang atau badan dilarang melakukan kegiatan mengemis, menggelandang, mengelap mobil, mengasong, dan mengamen di jalan-jalan.

Untuk merealisasikan Perda tersebut, Pemkot Tangerang Selatan harus memiliki strategi jitu. Pemkot Tangerang Selatan harus memiliki Strategi dari segi mikro dan segi makro.

Dari segi mikro yakni pemerintah harus merubah mentalitas individu. Pemerintah harus dapat menyadarkan bahwa menggelandang dan mengemis merupakan hal yang tidak baik. Dari segi makro yakni dari sistem. Sistem yang diusung pemerintah harus pro kepada masyarakat. “Sebenarnya harus sejalan, dari segi mikro individunya, dari sisi makro, sistemnya harus pro,” tandas Lisma.

Darsi, salah satu Gepeng di Kota Tangerang Selatan mengatakan bahwa dia tidak pernah diberi perhatian dan bantuan oleh Pemkot Tangerang Selatan. “Engga, Engga ngasih-ngasih tuh,” ujar Darsi, gepeng, Selasa (22/9) di samping kampus UIN Syarif Hidayatullah.

Warga Kota Tangerang Selatan rupanya merasa terganggu dengan keberadaan gepeng yang menjamur. “Kalo pertama kali iya (terganggu), tapi kalo udah biasa ya udah,” kata Junaedi, Warga Kota Tangerang Selatan, Minggu (20/9).

Junaedi berpendapat bahwa Seharusnya pemerintah lebih memperhatikan gepeng dan memberi bantuan berupa dana untuk membuka usaha serta memberikan keterampilan kepada gepeng. Seharusnya mah dari pemerintah harus ada bantuan,” tandasnya.



[1] Mahasiswa Tafsir Hadits, Fakultas Ushuluddin, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Komentar

Postingan populer dari blog ini

منظومة البيقونية (Manzumat al-Baiquniyah) matan dan terjemahan

أَبْـدَأُ بِالحَمْـدِ مُـصَلِّياً علـى * مُحَمَّــدٍ خَيْرِ نَبيِّ أُرْسِلا Aku memulai dengan memuji Allah dan bershalawat atas Muhammad, nabi terbaik yang diutus وَذي مـنْ أقسـامِ الحَديثِ عِدَّهْ * وَكُـلُّ وَاحِـدٍ أَتَى وَعَـدَّهْ Inilah berbagai macam pembagian hadits.. Setiap bagian akan datang penjelasannya أَوَّلُهَا الصَّحِيحُ وَهُـوَ مَا اتَّصَـلّْ* إسْنَادُهُ وَلَمْ يَشُـذَّ أَوْ يُعَـلّْ Pertama hadits shahih yaitu yang bersambung sanad nya, tidak mengandung syadz dan ‘illat يَرْويهِ عَدْلٌ ضَـابِطٌ عَنْ مِثْلِـهِ  * مُعْتَمَـدٌ فِي ضَبْطِهِ وَنَقْلِـهِ Perawi nya ‘adil dan dhabith yang meriwayatkan dari yang semisalnya (‘adil dan dhabith juga) yang dapat dipercaya ke-dhabith-an dan periwayatan nya وَالحَسَنُ المَعْروفُ طُرْقـاً وَغدَتْ * رِجَالَهُ لا كَالصَّحِيحِ اشْتَهَرَتْ (Kedua) Hadits Hasan yaitu yang jalur periwayatannya ma’ruf.. akan tetapi perawinya tidak semasyhur hadits shahih وَكُلُّ مَا عَنْ رُتْبَةِ الحُسْنِ قَصُـرْ * فَه...

Paham al-Sharfah

Paham al-Sharfah Oleh: Yudi Setiadi [1] Al-Sharfah terambil dari kata  صرف ( Sharafa ) yang berarti ‘memalingkan’; dalam arti Allah Swt. memalingkan manusia dari upaya membuat semacam al-Qur’an, sehingga seandainya tidak dipalingkan, maka manusia akan mampu. Dengan kata lain, kemukjizatan al-Qur’an lahir dari faktor ekternal, bukan dari al-Qura’an sendiri. [2]             Ada sebagian pemikir yang mengakui ketidakmampuan manusia menyusun semacam al-Qur’an. Menurut mereka, ini bukan disebabkan oleh keistimewaan al-Qur’an, tetapi lebih disebabkan adanya campur tangan Allah Swt. dalam menghalangi manusia membuat semacam al-Qur’an. Paham ini menamai mukjizat al-Qur’an dengan Mukjizat al-Sharfah . [3] Menurut pandangan orang yang menganut al-Sharfah, Cara Allah Swt. memalingkan manusia ada dua macam. Pertama , mengatakan bahwa semangat mereka untuk menantang dilemahkan Allah Swt. Kedua , menyatakan bahwa cara Allah Swt....

Media Massa: Upaya Melawan Ghazwul Fikri

Media Massa: Upaya Melawan Ghazwul Fikri Oleh: Yudi SEtiadi [1]             Persatuan dan rasa persaudaraan umat Islam yang sangat kuat membuat Islam tidak dapat dikalahkan dalam perang fisik. Bukan itu saja, hal utama yang menjadi titik kekutan Islam adalah keyakinan yang mendalam terhadap ajaran Islam dan kecintaannya terhadap Allah Swt. dan Rasul-Nya. semua itu terbukti dari beberapa perang yang dilakukan umat muslimin mulai dari Perang Badar hingga Perang Salib.             Kekuatan Islam yang tidak dapat dihadapi oleh musuh, membuat musuh Islam menjadi geram. Segala cara dilakukan seperti penghinaan, pemboikotan, ancaman hingga penyerangan fisik dalam jumlah besar. Tapi atas berkat rahmat dan izin Allah Swt. semua itu dapat dihadapi kaum muslim.             Puncak dari kegeraman musuh Islam terjadi ketika k...